Monday, November 12, 2012

MODEL KEPERAWATAN MENURUT HILDEGARD PEPLAU

KATA PENGANTAR
Puji syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena dengan limpahan rahmatNya kami sebagai penulis sangat bahaagia sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan. Serta tidak lupa pula ucapan terimakasih kami ucapakan kepada pihak-pihak yang telah membantu kami demi lancarnya penulisan makalah kami.
Sebagai penulis kami sadar bahwa dalam pembuatan dan penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan, untuk itu kami mengharapkan kepada pemirsa yang telah membaca makalah kami ini kiranya dapat memberikan sumbangsihnya berupa kritik dan sarannya demi makalah kami yang terbaik.
Wasallam
Hormat Penulis
Penulis

BAB II
PEMBAHASAN
MODEL KEPERAWATAN MENURUT HILDEGARD PEPLAU
Teori Peplau
Model konsep dan teori keperawatan yang dijelaskan oleh Peplau menjelaskan tentang kemampuan dalam memahami diri sendiri dan orang lain yang menggunakan dasar hubungan antar manusia yang mencakup 4 komponen sentral yaitu klien, perawat, masalah kecemasan yang terjadi akibat sakit (sumber kesulitan), dan proses interpersonal.
Klien.
Sistem dari yang berkembang terdiri dari karakteristik biokimia, fisiologis, interpersonal dan kebutuhan serta selalu berupaya memenuhi kebutuhannya dan mengintegrasikan belajar pengalaman. Klien adalah subjek yang langsung dipengaruhi. .Oleh adanya proses interpersonal.
Perawat
Perawat berperan mengatur tujuan dan proses interaksi interpersonal dengan pasien yang bersifat partisipatif, sedangkan pasien mengendalikan isi yang menjadi tujuan. Hal ini berarti dalam hubungannya dengan pasien, perawat berperan sebagai mitra kerja, pendidik, narasumber, pengasuh pengganti, pemimpin dan konselor sesuai dengan fase proses interpersonal.
Pendidikan atau pematangan tujuan yang dimaksud untuk meningkatkan gerakan yang progresif dan kepribadian seseorang dalam berkreasi, membangun, menghasilkan pribadi dan cara hidup bermasyarakat.
Perawat mempunyai 6 peran sebagai berikut :
1.Mitra kerja, berbagi rasa hormat dan minat yang positif pada pasien. Perawat menghadapi klien seperti tamu yang dikenalkan pada situasi baru. Sebagai mitra kerja, Hubungan P-K merupakan hubungan yang memerlukan kerha sama yang harmonis atas dasar kemitraan sehingga perlu dibina rasa saling percaya, saling mengasihi dan menghargai.
2.Nara sumber (resources person) memberikan jawaban yang spesifik terhadap pertanyaan tentang masalah yang lebih luas dan selanjutnya mengarah pada area permasalahan yang memerlukan bantuan. perawat mampu memberikan informasi yang akurat, jelas dan rasional kepada klien dalam suasana bersahabat dan akrab.
3. Pendidik (teacher) merupakan kombinasi dari semua peran yang lain. Perawat harus berupaya memberikan pendidikan, pelatihan, dan bimbingan pada klien/keluarga terutama dalam megatasi masalah kesehatan.
4.Kepemimpinan (leadership) mengembangkan hubungan yang demokratis sehingga merangsang individu untuk berperan. Perawat harus mampu memimpin klien/keluarga untuk memecahkan masalah kesehatan melalui proses kerja sama dan partisipasi aktif klien.
5.Perngasuh pengganti (surrogate) membantu individu belajar tentang keunikan tiap manusia sehingga dapat mengatasi konflik interpersonal. Perawat merupakan individu yang dipercaya klien untuk berperan sebagai orang tua, tokoh masyarakat atau rohaniawan guna membantu memenuhi kebutuhannya.
6.Konselor (consellor) meninhgkatkan pengalaman individu menuju keadaan sehat yaitu kehidupan yang kreatif, konstruktif dan produktif. Perawat harus dapat memberikan bimbingan terhadap masalah klien sehingga pemecahan masalah akan mudah dilakukan.
Sumber kesulitan
Ansietas berat yang disebabkan oleh kesulitan mengintegrasikan pengalaman interpersonal yang lalu dengan yang sekarang ansietas terjadi apabila komunikasi dengan orang lain mengancam keamanan psikologi dan biologi individu. Dalam model peplau ansietas merupakan konsep yang berperan penting karena berkaitan langsung dengan kondisi sakit. Dalam keadaan sakit biasanya tingkat ansietas meningkat. Oleh karena itu perawat pada saat ini harus mengkaji tingkat ansietas klien. Berkurangnya ansietas menunjukkan bahwa kondisi klien semakin membaik.
Proses Interpersonal
Dalam ilmu komunikasi, proses interpersonal didefinisikan sebagai proses interaksi secara simultan dengan orang lain dan saling pengaruh-mempengaruhi satu dengan lainnya, biasanya dengan tujuan untuk membina suatu hubungan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka proses interpersonal yang dimaksud antara perawat dan klien ini menggambarkan metode transpormasi energi atau ansietas klien oleh perawat yang terdiri dari 4 fase yaitu :
1.Fase orientasi
Lebih difokuskan untuk membantu pasien menyadari ketersediaan bantuan dan rasa percaya terhadap kemampuan perawat untuk berperan serta secara efektif dalam pemberian askep pada klien. Tahap ini ditandai dimana perawat melakukan kontrak awal untuk membangun kepercayaan dan terjadi pengumpulan data.
2. Fase identifikasi
Terjadi ketika perawat memfasilitasi ekspresi perilaku pasien dan memberikan asuhan keperawatan yang tanpa penolakan diri perawat memungkinkan pengalaman menderita sakit sebagai suatu kesempatan untuk mengorientasi kembali perasaan dan menguatkan bagian yang positif dan kepribadian pasien. Respon pasien pada fase identifikasi dapat berupa :
1.Pasrtisipan mandiri dalam hubungannya dengan perawat.
2. Individu mandiri terpisah dari perawat.
3. Individu yang tak berdaya dan sangat tergantung pada perawat.
3. Fase eksplorasi
Memungkinkan suatu situasi dimana pasien dapat merasakan nilai hubungan sesuai pandangan/persepsinya terhadap situasi. Fase ini merupakan inti hubungan dalam proses interpersonal. Dalam fase ini perawat membantu klien dalam memberikan gambaran kondisi klien dan seluruh aspek yang terlibat didalamnya.
4. Fase resolusi
Secara bertahap pasien melepaskan diri dari perawat. Resolusi ini memungkinkan penguatan kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan menyalurkan energi kea rah realisasi potensi.
Keempat fase tersebut merupakan rangkaian proses pengembangan dimana perawat membimbing pasien dari rasa ketergantungan yang tinggi menjadi interaksi yang saling tergantung dalam lingkungan sosial. Artinya seorang perawat berusaha mendorong kemandirian pasien.
Pemaparan ini menunjukkan bahwa teori Hildegard E. Peplau(1952) berfokus pada individu, perawat dan proses interaktif yang menghasilkan hubungan antara perawat dan klien. Berdasarkan teori ini klien adalah individu dengan kebutuhan perasaan, dan keperawatan adalah proses interpersonal dan terapeutik. Artinya suatu hasil proses kerja sama manusia dengan manusia lainnya supaya menjadi sehat atau tetap sehat (hubungan antar manusia). Tujuan keperawatan adalah untuk mendidik klien dan keluarga dan untuk membantu klien mencapai kematangan perkembangan kepribadian. Oleh sebab itu, perawat berupaya mengembangkan hubungan perawat dan klien melalui peran yang diembannya (nara sumber, konselor, dan wali).
Adapun kerangka kerja praktik dari teori Peplau memaparkan bahwa keperawatan adalah proses yang penting, terapeutik, dan interpersonal. Keperawatan berpartisipasi dalam menyusun struktur system asuhan kesehatan untuk menfasilitasi kondisi yang alami dari kecenderungan manusia untuk mengembangkan hubungan interpersonal.
Implementasi Teori Peplau
Pada awalnya, Peplau mengembangkan teorinya sebagai bentuk keprihatinannya terhadap praktik keperawatan “Custodial Care”, sehingga sebagai perawat jiwa, melalui tulisannya ia kemudian mempublikasikan teorinya mengenai hubungan interpersonal dalam keperawatan. Dimana dalam memberikan asuhan keperawatan ditekankan pada perawatan yang bersifat terapeutik.
Aplikasi yang dapat kita lihat secara nyata yaitu pada saat klien mencari bantuan, pertama perawat mendiskusikan masalah dan menjelaskan jenis pelayanan yang tersedia. Dengan berkembangnya hubungan antara perawat dan klien bersama-sama mendefinisikan masalah dan kemungkinan penyelesaian masalahnya. Dari hubungan ini klien mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan pelayanan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhannya dan perawat membantu klien dalam hal menurunkan kecemasan yang berhubungan dengan masalah kesehatannya.
Teori peplau merupakan teori yang unik dimana hubungan kolaborasi perawat klien membentuk suatu “kekuatan mendewasakan” melalui hubugan interpersonal yang efektif dalam membantu pemenuhan kebutuhan klien. Ketika kebutuhan dasar telah diatasi, kebutuhan yang baru mungkin muncul. Hubungan interpesonal perawat klien digambarkan sebagai fase-fase yang saling tumpang tindih seperti berikut ini orientasi, identifikasi, penjelasan dan resolusi.
Teori dan gagasan Peplau dikembangkan untuk memberikan bentuk praktik keperawatan jiwa. Penelitian keperawatan tentang kecemasan, empati, instrument perilaku, dan instrument untuk mengevaluasi respon verbal dihasilkan dari model konseptual Peplau.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Teori Hildegard Peplau (1952) berfokus pada individu, perawat, dan proses interaktif (Peplau, 1952) yang menghasilkan hubungan antara perawat dan klien (Torres, 1986). Berdasarkan teori ini klien adalah individu dengan kebutuhan perasaan, dan keperawatan adalah proses interpersonal dan terapeutik. Tujun keperawatan adalah untuk mendidik klien dan keluarga dan unutuk membantu klien mencapai kemantapan pengembangan kepribadian (Chinn dan Jacobs, 1995). Teori dan gagasan Peplau dikembangkan untuk memberikan bentuk praktik keperawatan jiwa. Oleh sebab itu perawat berupaya mengembangkan hubungan antara perawat dank lien dimana perawat bertugas sebagai nara sumber, konselor, dan wali.
3.2 Saran
Seperti yang kita ketahui bahwa manusia dipandang sebagai sistem holistik yang terdiri dari bio-psiko-sosial-spiritual. Pada teori Peplau ini mempunyai kelemahan yaitu lebih menitikberatkan pada keperawatan jiwa, hal ini dapat dibuktikan pada gagasan Peplau yang dikembangkan pada pemantapan pengembangan kepribadian.
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat. (2004). Pengantar Konsep dasar Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta
Potter & Perry. (2005). Buku ajar Fundamental keperawatan. Volume 1. EGC. Jakarta.
Sills. (2007). Hildegard Peplau 1909-1999
Elhy. Wednesday, April 16, 2008. Teori Peplau.
http://semangateli.blogspot.com%2F2008%F04&2Fteori-peplau.html
http://umitrastikes.blogspot.com/2010/01/model-keperawatan-menurut-hildegard.html

TEORI KEPERAWATAN JEAN WATSON


OTOBIOGRAFI :
Jean Watson, PhD, RN, AHN-SM, FAAN
Distinguished Profesor Keperawatan, Ketua Diberkahi Murchinson-Scoville di Ilmu Merawat
University of Colorado Pusat Ilmu Kesehatan
Lahir: Tahun 1940 - Belfast, Irlandia
Dr Jean Watson adalah Para Profesor dari Perawatan dan memegang Ketua diberkahi dalam Merawat Science di University of Colorado Health Sciences Center. Dia adalah pendiri dari Pusat asli untuk Merawat Manusia di Colorado dan merupakan anggota dari American Academy of Nursing. Dia sebelumnya menjabat sebagai Dekan Keperawatan di University Health Sciences Center dan merupakan Presiden lalu dari Liga Nasional untuk Keperawatan.
Dr Watson telah menerima gelar sarjana dan pascasarjana dalam merawat kesehatan keperawatan dan psikiatris-mental dan memegang gelar PhD-nya dalam psikologi pendidikan dan konseling. Dia adalah seorang penulis dipublikasikan secara luas dan penerima beberapa penghargaan dan kehormatan, termasuk Fellowship Kellog internasional di Australia, Fulbright Award Penelitian di Swedia dan enam (6) Gelar Doktor Kehormatan, termasuk 3 International Kehormatan Doctorates (Swedia, Inggris, Quebec, Kanada).
Dia telah Distinguished Dosen dan Diberkahi Dosen di universitas-universitas di seluruh Amerika Serikat dan negara-negara asing. pengalaman internasional-nya menyusui membawanya di seluruh dunia beberapa kali. Sementara Direktur Center for Human Merawat ia mendirikan hubungan internasional dengan kolega dan sistem di beberapa negara, termasuk Inggris, Kanada, Selandia Baru, Australia, Skandinavia, Brasil, Thailand, Venezuela, Jepang, dan Korea, antara lain.
perawat klinis dan program akademik di seluruh dunia menggunakan karya-karyanya diterbitkan pada filsafat dan teori tentang kepedulian manusia dan seni dan ilmu caring dalam keperawatan. filsafat peduli Dr Watson digunakan untuk memandu model baru peduli dan praktek penyembuhan dalam pengaturan beragam di seluruh dunia. Watson telah ditampilkan dalam video nasional berbagai teori keperawatan dan seni keperawatan. Dia adalah penerima tahun 1993 Liga Nasional untuk Penghargaan Keperawatan Martha E. Rogers, "mengakui seorang sarjana perawat yang telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengetahuan keperawatan bahwa kemajuan ilmu kepedulian dalam ilmu keperawatan dan kesehatan". New York University diakui sebagai seorang Perawat Distinguished Scholar. Pada tahun 1999, Institut Fetzer menghormati dia dengan Award Norman Cousins ​​nasional sebagai pengakuan atas komitmennya untuk mengembangkan, mempertahankan dan mencontohkan hubungan-berpusat praktik perawatan.
Di University of Colorado, Dr Watson memegang gelar Distinguished Profesor of Nursing, penghargaan tertinggi yang diberikan fakultas untuk karya ilmiah. Pada tahun 1999 ia diasumsikan Ketua Murchinson-Scoville di Peduli Ilmu, pertama kursi bangsa dianugerahi di Peduli Ilmu, berbasis di University of Colorado Health Sciences Center. Buku-bukunya terbaru berkisar dari pengukuran empiris kepedulian, untuk filsafat postmodern baru peduli dan penyembuhan. Buku terbaru adalah Merawat Sains sebagai Ilmu Suci (2005) Philadelphia: FA Davis. Karya-karya terbaru berusaha untuk menjembatani paradigma serta mengarah ke model transformatif untuk abad ke-21. (JwAug, 2004)
BAB I
PENDAHULUAN
Konsep merupakan suatu ide di mana terdapat suatu kesan yang abstrak yang dapat diorganisir menjadi simbul-simbul yang nyata sedangkan konsep keperawatan merupakan ide untuk menyusun suatu kerangka k onseptual atau model keperawatan. Teori ini sendiri merupakan sekelompok konsep yang membentuk  sebuah pola yang nyata atau suatu pernyataan yang menjelaskan suatu proses, peristiwa, atau kejadian yang didasari oleh fakta-fakta yang telah diobservasi, tetapi kurang absolut (kurang adanya bukti) secara langsung.
Teori keperawatan digunakan untuk menyusun suatu model konsep dalam keperawatan, sehingga model keperawatan tersebut mengandung arti aplikasi dari struktur keperawatan itu sendiri yang memungkinkan perawat untuk mengaplikasikan
ilmu yang pernah didapat ditempat mereka bekerja dalam batas kewenangan sebagai
seorang perawat. Model konsep keperawatan ini digunakan dalam menentukan model
praktek keperawatan yang akan diterapkan sesuai kondisi dan situasi tempat perawat
tersebut bekerja. Mengingat dalam model praktek keperawatan mengandung  komponen dasar seperti adanya keyakinan dan nilai yang mendasari sebuah model, adanya tujuan praktek yang ingin dicapai dalam memberikan pelayanan ataupun asuhan keperawatan terhadap kebutuhan semua pasien, serta adanya pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan oleh perawat dalam mencapai tujuan yang  ditetapkan sesuai kebutuhan pasien.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka perlunya mempelajari teori dan Model konsep keperawatan yang telah ada sebagai salah satu kunci dalam mengembangkan ilmu dan praktek, serta profesi  keperawatan di Indonesia. Pada kesempatan kali ini saya mencoba memaparkan “Teori dan Model Konsep Keperawatan Jean Watson”.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.    Konsep Utama Teori dan Model  Keperawatan Jean Watson
Jean Watson dalam memahami konsep keperawatan terkenal dengan teori pengetahuan manusia dan merawat manusia. Tolak ukur pandangan Watson ini didasari pada unsur teori kemanusiaan. Pandangan teori Jean Watson ini memahami bahwa manusia memiliki empat cabang kebutuhan manusia yang saling berhubungan di antaranya kebutuhan dasar biofisikal (kebutuhan untuk hidup) yang meliputi kebutuhan makanan dan cairan, kebutuhan eliminasi dan kebutuhan ventilasi, kebutuhan psikofisikal (kebutuhan fungsional) yang meliputi kebutuhan aktivitas dan istirahat, kebutuhan seksual, kebutuhan psikososial (kebutuhan untuk integrasi) yang meliputi kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan organisasi, dan kebutuhan intra dan interpersonal (kebutuhan untuk pengembangan) yaitu kebutuhan aktualisasi diri.



Berdasarkan empat kebutuhan tersebut, Jean Watson memahami bahwa manusia adalah mahluk yang sempurna yang memiliki berbagai macam ragam perbedaan, sehingga dalam upaya mencapai kesehatan, manusia seharusnya dalam keadaan sejahtera baik fisik, mental dan spiritual karena sejahtera merupakan keharmonisan antara pikiran, badan dan jiwa sehingga untuk mencapai keadaan tersebut keperawatan harus berperan dalam meninggalkan status kesehatan, mencegah terjadinya penyakit, mengobati berbagai penyakit dan penyembuhan kesehatan dan fokusnya pada peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit.
Tolok ukur pandangan Watson ini didasari pada unsur teori kemanusiaan. Pandangan teori Jean Watson ini memahami bahwa manusia memiliki 4 bagian  kebutuhan dasar manusia yang saling berhubungan antara kebutuhan yang satu dengan kebutuhan yang  lain. Berdasarkan dari empat kebutuhan tersebut, Jean Watson  memahami  bahwa  manusia  adalah makhluk  yang sempurna dan memiliki berbagai ragam perbedaan, sehingga dalam upaya mencapai kesehatan, manusia seha-rusnya dalam keadaan sejahtera baik fisik, mental, sosial, serta spiritual.
Selain itu ada 7 (tujuh) asumsi dalam ilmu keperawatan, antara lain :
1.      Asuhan keperawatan dapat secara efektif didemonstrasikan dan dipraktekkan  hanya  secara interpersonal.
2.      Asuhan keperawatan berisi faktor care/perhatian pada perawatan yang hasilnya dapat memuaskan kebutuhan manusia yang memerlukan bantuan.
3.      Asuhan keperawatan yang efektif meningkatkan kesehatan dan berkembang ke arah perbaikan bagi individu, serta keluarga.
4.      Respon asuhan keperawatan menerima seseorang tidak hanya pada saat di rawat saja, tetapi juga kemungkinan yang akan terjadi setelah pasien pulang.
5.      Asuhan keperawatan juga melibatkan lingkungan pasien, sehingga  bisa  menawarkan kepada pasien untuk  mengembangkan  potensinya  untuk  memilih apa  yang terbaik untuk dirinya saat  itu.
6.      Asuhan  keperawatan  lebih “ healthogenic” dari pada  pengobatan. Praktek  asuhan keperawatan terintegrasi antara pengetahuan biofisikal dengan  pengetahuan  tentang  perilaku  manusia untuk meningkatkan kesehatan dan untuk memberikan bantuan / pertolongan kepada mereka yang sakit.
7.      Praktek asuhan merupakan sentral keperawatan.
B.     Hubungan Teori Jean Watson dengan Konsep Utama Keperawatan
Jean Watson membagi konsep utama keperawatan dalam 4 (empat) bagian, yaitu:
1.      Kemanusiaan (Human Beeing)
Menurut pandangan Watson orang yang bernilai nb agi dirinya atau orang lain dalam memberikan pelayanan keperawatan harus dapat memelihara, menghargai, mengasuh, mau mengerti dan membantu orang yang sedang sakit. Dalam pandangan filosofi umum, manusia itu mempunyai fungsi yang kompleks yang terintegrasi dalam dirinya. Selain itu manusia juga dinilai sempurna, karena bagian-bagian tubuhnya mempunyai fungsi yang sempurna; tetapi dalam fungsi perkembangannya dia  harus selalu  beradaptasi dengan  lingkungan  sosialnya. Jika  adaptasi  tersebut tidak berhasil, maka akan terjadi ko nflik (terutama kngi.onflik psikososial), yang berdampak pada terjadinya krisis disepanjang  kehidupannya. Hal tersebut perlu mendapatkan asuhan, agar dapat ditanggulangi.
2.      Kesehatan
Menurut WHO meliputi bagian positif dari fisik, mental , dan sosial yang baik. Akan tetapi Watson juga mempercayai bahwa  ada beberapa faktor lain yang dibutuhkan untuk dimasukkan dalam definisi sehat ini, yaitu:
a.       Fungsi manusia secara keseluruhan baik fungsi fisik, mental, dan sosial seimbang/serasi.
b.      Adaptasi secara umum terhadap pertahanan dirinya sehari-hari dengan lingkungannya.
c.       Tidak adanya penyakit.
Asuhan kesehatan yang benar fokusnya pada gaya hidup, kondisi sosial, dan lingkungan :
a.       Kesehatan adalah hubungan yang harmonis antara pikiran, tubuh, dan jiwa.
b.      Kesehatan  juga  dihubungkan  dengan  tingkat  kesesuaian  antara apa  yang dirasakan dengan  apa yang dialami.
3.      Lingkungan sosial
Salah satu variabel yang mempengaruhi masyarakat saat ini adalah lingkungan sosial. Masyarakat memberikan nilai yang menentukan terhadap bagaimana seharusnya berkelakuan, dan tujuan apa yang harus dicapai. Nilai -nilai tersebut  dipengaruhi oleh  lingkungan  sosial, kultural, dan spiritual. 
Asuhan keperawatan telah ada dalam masyarakat, karena  setiap masyarakat biasanya mempunyai seseorang yang care terhadap orang lain. Watson menyatakan bahwa merawat, dan keperawatan itu ternyata sangat dibutuhkan oleh setiap lingkungan sosial yang mempunyai beberapa orang yang saling peduli dengan yang lainnya. Sikap merawat tidak diturunkan dari generasi ke generasi, melalui gen, tetapi diturunkan dari kebudayaan profesi sebagai suatu koping yang unik terhadap lingkungan.
4.      Keperawatan
Menurut Watson keperawatan  fokusnya lebih pada promosi kesehatan, pencegahan penyakit, merawat yang sakit, dan pemulihan keadaan fisik. Keperawatan pada promosi kesehatan awalnya sama dengan mengobati penyakit. Dia melihat keperawatan dapat bergerak dari  dua area, yaitu: masalah penanganan  stres dan penanganan konflik. Hal ini dapat menunjang tersedianya perawatan kesehatan yang holistik, yang dia percayai dapat menjadi pusat dari praktik keperawatan. Salah satu asumsi Watson mengatakan bahwa kondisi sosial, moral, dan ilmu pengetahuan sangat berkontribusi terhadap kondisi kesehatan manusia dan masyarakat, sehingga perawat perlu berkomitmen terhadap pemberian asuhan kesehatan yang ideal melalui kajian teori, praktek, dan riset keperawatan.
Ada 10 faktor utama yang membentuk aktivitas perawatan, antara lain:
a.       Membentuk sistem nilai humanistic altruistic.
b.      Membangkitkan rasa percaya dan harapan.
c.       Mengembangkan kepekaan kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain.
d.      Mengembangkan hubungan yang sesuai harapan pasien / “helping trust”.
e.       Meningkatkan intuisi dan peka terhadap ekspresi perasaan baik positif, maupun negative.
f.       Menggunakan metoda ilmiah “problem solving” yang sistematik untuk mengambil keputusan.
g.      Meningkatkan hubungan interpersonal “teaching-learning”.
h.      Memberi dukungan/support, melindungi, dan membantu memperbaiki kondisi mental, fisik, sosial-kultural, serta spiritual.
i.        Bantuan yang diberikan dapat memuaskan kebutuhan manusia.
j.        Menghargai terhadap kekuatan yang dimiliki pasien.
C.    Hubungan Teori Jean Watson dengan Proses Keperawatan
Watson merekomendasikan suatu pendekatan penelitian keperawatan yang lebih dalam, agar menghasilkan suatu hubungan keperawatan yang baik dengan keb utuhan manusia. Agar hasilnya sempurna, maka perawat perlu melakukan metoda pemecahan masalah secara ilmiah. Watson juga menyatakan proses keperawatan  terdiri atas langkah-langkah yang sama dengan proses ilmiah. Watson kemudian mengkolaborasikannya dalam dokumentasi (tulisan yang dicetak miring mengidikasikan adanya keterkaitan  dengan adanya penelitian dalam proses keperawatan).
1.      Pengkajian
a.       Pengkajian  meliputi: tindakan   pengamatan, melakukan identifikasi, dan menelaah masalah yang muncul melalui pengaplikasian dari hasil studi literature.
b.      Untuk  dapat  menelaah dan  memprediksi suatu  masalah dengan  baik sesuai  kerangka kerja yang telah dibuat, maka  perlu menggali  lebih dalam  pengetahuan yang terkait secara konseptual.
c.       Dalam  pengkajian  juga  mencakup  formulasi  hipotesis  mengenai  hubungan dan factor-faktor yang mempengaruhi masalah.
d.      Selain itu juga dalam menilai situasi perlu mencantumkan definisi dari   variable-variable yang akan diperiksa dalam pemecahan masalah ini.
2.      Perencanaan
a.       Dengan perencanaan yang baik, maka akan membantu dalam menentukan bagaimana variabel-variabel dapat diuji atau diukur.
b.      Dalam merancang suatu pemecahan masalah yang mengacu pada  rencana  asuhan keperawatan tetap melalui pendekatan konseptual.
c.       Selain itu juga dalam perencanaan tercantum data-data yang telah dikumpulkan & sesuai.
3.      Intervensi
Merencanakan tindakan sesuai dengan masalah yang ditemukan
4.      Evaluasi
a.       Evaluasi  merupakan  sebuah  metoda dan  proses untuk menganalisa hasil pelaksanaan inter-vensi dari setiap masalah yang ada.
b.      Disamping itu menurut Watson, evaluasi juga harus mampu memberikan generalisasi terhadap hipotesa-hipotesa tambahan atau kejadian yang  mungkin akan terjadi untuk mendorong teori keperawatan secara umum didasarkan pada studi pemecahan masalah.
D.    Hubungan dengan Ciri Teori
Menurut Watson, bahwa sebuah teori itu merupakan sebuah pengelompokkan dari ide-ide, dan pengalaman yang memberikan penjelasan mengenai fenomena-fenomena. Dia menolak konsep tradisional, dan moetodologi kuantitatif harus dikorbankan saat mendapatkan pengetahuan baru dari tingkah laku manusia. Dia melihat bahwa keperawatan dapat dikembangkan dengan melibatkan prosedur-prosedur, dan manipulasi variabel sementara yang terbaik adalah dengan melakukan penelitian untuk melihat berbagai alternatif dalam merawat manusia, baik sehat, maupun sakit, serta mendorong peningkatan kesehatan. Karya Watson telah dikembangkan dalam konteks tradisional:
1.      Teori-teori tersebut berhubungan dengan konsep seperti dalam membangun solusi berbeda dalam  melihat fenomena tertentu.
2.      Teori harus logis secara alami.
3.      Teori seharusnya sederhana sebelum digeneralisasikan.
4.      Teori dapat didasarkan pada hipotesis yang dapat diuji
5.      Teori berkontribusi dan membantu dalam  pengembangan  pengetahuan secara umum sesuai disiplin ilmunya melalui penelitian untuk mencapai sesuatu yag valid.
6.      Teori dapat digunakan oleh para praktisi untuk menjadi pedoman dan  meningkatkan mutu dari tindakan pelayanan ataupun asuhan keperawatan yang diberikan.
7.      Teori tersebut harus konsisten dengan teori-teori lainnya, dengan hukum, dan prinsip-prinsip lainnya; tetapi  masih meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab, kemudian diinvestigasi.
 
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan dari makalah di atas adalah sebagai berikut:
1.      Konsep utama  teori  Jean  Watson  adalah “ Human  Science and  Human Care ”, yang fokus utamanya dalam keperawatan adalah careative factor, dimana  dia  berasal dari humanistic perspective yang dikombinasikan dengan dasar ilmu pengetahuan ilmiah.
2.      Hubungan teori Jean Watson ini dengan konsep utama  keperawatan, yaitu adanya unsur teori kemanusiaan dalam pandangannya yang mengatakan  bahwa  manusia  adalah makhluk yang sempurna yang memiliki berbagai ragam perbedaan.
3.      Hubungan dengan proses perawatan, Jean Watson menganjurkan supaya penelitian- penelitian di bidang keperawatan dapat  dihubungkan dengan proses keperawatan, sebab di dalam proses keperawatan langkah-langkahnya sama dengan proses ilmiah.
4.      Hubungan dengan ciri-ciri teori, Jean Watson mengatakan bahwa  sebuah teori merupakan sebuah pengelompokan, ide-ide, pengalaman yang memberikan  penjelasan mengenai fenomena 40, dan dia menolak konsep tradisional.
5.      Penerapan teori Jean Watson, terdiri dari: pengkajian, penentuan diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
DAFTAR PUSTAKA
George J. B. (1990). Nursing Theories. New Jersey: Apleton and Lange.
Hidayat Aziz Alimul A. (2009). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Soemantri I. (2006). Konsep Dasar Keperawatan. Bandung: Stikes A. Yani Press.
http://renal-mumar.blogspot.com/2012/04/teori-keperawatan-jean-watson.html

MODEL KEPERAWATAN BETTY NEUMAN


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Salah satu cara untuk menunjukkan eksistensi keperawatan adalah dengan mengembangkan salah satu model pelayanan keperawatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. model keperawatan Neuman, dikenal dengan model adaptasi dimana Neuman memandang pengalaman klinis dikeperawatan distrik dan psikiatrik
Dari berbagai tingkatan usia.Aplikasi proses keperawatan menurut konsep teori Neuman di Rumah Sakit telah banyak diterapkan namun sedikit sekali perawat yang mengetahui dan memahami bahwa tindakan keperawatan tersebut telah sesuai. Bahkan perawat melaksanakan asuhan keperawatan tanpa menyadari sebagian tindakan yang telah dilakukan pada klien adalah penerapan konsep teori Neuman.
Oleh karena itu, kelompok memandang perlu untuk mengetahui dan mengkaji lebih jauh tentang penerapan model keperawatan yang sesuai dengan teori Sister Neuman diilapangan atau rumah sakit, sehingga dapat diketahui apakah teori Neuman dapat diaplikasikan dengan baik dalam pelayanan keperawatan/ asuhan keperawatan .
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mampu memahami konsep model keperawatan menurut Neuman dalam manajemen Asuhan Keperawatan
2. Tujuan Khusus
a. Memahami konsep model teori Neuman
b. Mampu menghubungkan model konsep Roy dengan proses keperawatan
c. Mampu mengevaluasi/menilai proses keperawatan di RS dengan konsep Neuman                              pada mode fisiologi sub kebutuhan cairan
d. Mendapatkan gambaran kondisi pelaksanaan konsep Neuman di RS pada mode fisiologis sub kebutuhan cairan
BAB II
MODEL KEPERAWATAN BETTY NEUMAN
A. Model Keperawatan
            Betty Neuman membuat modelnya dalam proses mendapatkan pengalaman klinis di keperawatandistrik dan psikiatrik. model konseptuanya dibuat berdasarkan pengalaman umumnya dalam bidang layanan kesehatan dan keperawatan. oleh karena itu Neuman memandang keperawatan sebagai profesi yang unik, dan pada saat yang sama, teorinya dapat diterapkan oleh banyak profesi dibidang Kesehatan.
            Bagian utama dari system ini dibuat berdasarkan teori. dalam model Neuman ini seseorang berinteraksi dengan lingkungan secara kontinyu. orang tersebut dipandang sebagai system terbuka, yang komponen stress dan reaksi terhadap stress memainkan peranan besar. Neuman memulai modelnya dari dasar pemikiran sebagai berikut :
  1.  setiap individu memiliki konstitusi atau sifatnya masing-masing dan kuantitas energi terkait, yang merupakan kondisi vital dan tidak hanya membedakan diri dengan orang lain, tetapi juga menunjukkan ia sama dengan orang lain.
  1. setiap manusia merupakan kesatuan yang terdiri dari factor biologi, psikologis, social budaya dan perkembangan. factor-faktor yang berkaitan secara kontinu.
  1. setiap individu rentan terhadap stress dari 3 jenis yang berbeda yaitu, intrapersonal, interpersonal, dan ekstrapersonal.
  1. setiapa individu memiliki garis pertahan yang uni, yang memungkinkan ia bereaksi terhadap stress pada setiap peristiwa jika keseimbangan normalnya terganggu.
  1. bagaimana individu bereaksi pada stress tidak hanya bergantung pada jumlah stress, namun juag pada ketahanan individu. setiap individu memiliki sejumlah cara yang memungkinkannya untuk menahan stress, sehingga keseimbangan normalnya dapat pulih dan terjaga.
Neuman mengidentifikasi pendekatan spesifik ketika individu, sendiri atau dibantu oleh pemberi asuhan. dapat menatalaksanakan atau mengatasi stress. Berikut ada 3 tingkat bantuan yang berbeda :
  1. pencegahan primer : pencegahan stress
  2. pencegahan sekunder : mengatasi stress
  3. pencegahan tertier : reimplikasi pencegahan primer setelah pencegahan sekunder yang dilakukan sudah berhasil dilakukan
B. Paradigma Keperawatan
  1. Manusia
Manusia dipandang sebagai sebuah system yang terdiri dari fakto fisiologis, psikologis, social budaya, dan perkembangan. setiap manusia memiliki konstitusi pribadi dan individual atau struktur dasar yang membuat unik. namun, terdapat juga kesamaan antara struktur dasarnya dan yang dimiliki oleh orang lain.
Neuman menyebutkan struktur dasar ini sebagai inti sentral. Lpaisan pelindung pertama dari inti sentral membuat garis resisten. lapisan pelindung kedua terdiri dari garis pertahanan normail dan garis pertahanan fleksibel
  1. Lingkungan
Lingkungan mendapatkan peran utama dalam model Neuman bersama komponen internal dan eksternal yang secara kontinu memengaruhi orang tersebut. pada saat yang sma, lingkungan dipengaruhi oleh orang tersebut, yang menghasilkan interaksi yang berperan penting dalam model keperawatan Neuman.
  1. Sehat
Sejahtera adalah keadaan ketika seluruh variabel individu selaras dengan individu tersebut secara total, sementara sehat mencerminkan tingkat kesejahteraan, tingkat kesejahteraan maksimal dicapai jika seseorang dapat memuaskan kebutuhannya. sakit adalah tingkat hal tersebut tidak mungkin dilakukan.
  1. Keperawatan
Keperawatan sebagai profesi merupakan variabel dasar dari reaksi individu terhadap stress. Keperawatan berfokus pada individu sebagai satu kesatuan, bertujuan untuk mencapai dan mempertahankan kestabilan pasien. aktivitas keperawatan dapat dibagi menjadi intervensi primer, sekunder, dan tersier.
  
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
        Neuman mendeskripsikan modelnya sebagai aktivitas keperawatan yang yang luas, serbaguna dan dinamik yang disertai struktur, organisasi dan arahan. Ia membahas individu, kelompok (terutama keluarga), dan komunitas, dari berbagai perspektif dan dalam interaksi yang kontinu dengan stress yang ada dilingkungan mereka
B. Saran
1)      Semoga makalah ini dapat bermamfaat bagi yang pembaca, terutama mahasiswa keperawatan
2)      Semoga dapat menjadi bahan acuan pembelajaran bagi mahasiswa keperawatan.
DAFTAR PUSTAKA
 Basford, Lynn, 2006, Teori dan Praktik Keperawatan, EGC, Jakarta.
http://asuhankeperawatanonline.blogspot.com/2012/02/model-keperawatan-betty-neuman.html

Sunday, November 4, 2012

Peran Perawat Indonesia Menurut Lokakarya Nasional Keperawatan 1983

Elemen peran perawat menurut lokakarya nasional keperawatan 1983, peran perawat di Indonesia disepakati sebagai :

Pelaksana pelayanan keperawatan
dapat ditunjukkan dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok atau m asyarakat berupa asuhan keperawatan yang komprehensif meliputi pemberian asuhan pencegahan pada tingkat 1, 2 atau 3 baik direct maupun indirect



Pendidik

perawat harus mampu mengajarkan tindakan pelayanan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan dari penyakit, munyusun program health education, memberikan info yang tepat tentang kesehatan.



Peneliti

Seorang perawat diharapkan dapat menjadi pembaharu (innovator) dalam ilmu keperawatan karena ia memiliki kreativitas, inisiatif, cepat, tanggap terhadap rangsangan dari lingkungannya, kegitan ini dapat diperoleh melalui penelitian

Pada hakekatnya penelitian adalah melakukan evaluasi, mengukur kemampuan, menilai dan mempertimbangkan sejauh mana efektivitas tindakan yang telah diberikan.



Coordinator pelayanan kesehatan ( pengelola dalam bidang pelayanan keperawatan dan institusi pendidikan)

  •  mengkoordinir seluruh kegiatan upaya pelayanan kesehatan masyarakat dan puskesmas dalam mencapai tujuan kesehatan melalui kerjasama dengan tim kesehatan lain sehingga pelayanan yang diberikan merupakan kegiatan yang menyeluruh
  • perawat melakukan koordinasi terhadap semua pelayanan kesehatan yang diterima oleh keluarga dan bekerjasama dengan keluarga dalam perencanaan pelayanan keperawatan serta sebagai penghubung dengan institusi pelayanan kesehatan lain, supervisi terhadap asuhan keperawatan yang dilaksanakan anggota tim
  • perawat memberikan motivasi untuk meningkatkan keikutsertaan individu, keluarga dan kelompok dalam setiap upaya pelayanan kesehatan yang dilaksanakan di masyarakat : posyandu, dana sehat

Namun selain peran-peran diatas perawat juga memilki peran yang lain yaitu sebagai :

Pengamat kesehatan

melaksanakan monitoring terhadap perubahan yang terjadi pada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang menyangkut masalah kesehatan melalui kunjungan rumah, pertemuan, observasi dan pengumpulan data



Pembaharu

perawat dapat berperan sebagai innovator terhadap individu, keluarga dan masyarakat dalam merubah perilaku dan pola hidup yang berkaitan dengan peningkatandan pemeliharaan kesehatan.



Role model

segala perilaku yang ditampilkan perawat seyoyanya dapat dijadikan panutan, panutan ini digunakan pada semua tingkat pencegahan terutama PHSB, menampilkan profesionalisme dalam bekerja.



Fasilitator

perawat merupakan tempat bertanya bagi masyarakat untuk memecahkan masalah kesehatan. Diharapkan perawat dapat memberikan solusi mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi individu, keluarga dan kelompok/ masyarakat.